
Sebelum RSUD Jampangkulon berdiri, melahirkan di wilayah selatan Sukabumi adalah pertaruhan nyawa. Kini, berkat bidan yang berdedikasi, angka kematian ibu dan bayi terus menurun sebuah kemenangan yang tak pernah masuk berita.
Di balik perbukitan terjal yang memisahkan wilayah selatan Kabupaten Sukabumi dari pusat kota, ada perempuan-perempuan yang sudah lama menjadi penjaga garis depan kehidupan. Mereka adalah bidan sosok yang kerap hadir di tengah malam, di jalan berlumpur, di desa-desa terpencil yang tak tercantum di peta jalan utama.
Ketika Melahirkan Adalah Perjudian Nyawa
Bertahun-tahun sebelum RSUD Jampangkulon berdiri, wilayah selatan Kabupaten Sukabumi yang meliputi Kecamatan Jampangkulon, Surade, Ciracap, Cibitung, hingga pesisir Samudra Hindia menjadi salah satu kantong dengan angka kematian ibu dan bayi tertinggi di Jawa Barat. Bukan karena warganya abai, melainkan karena geografi yang kejam jalanan berliku menembus hutan dan perbukitan, akses ke fasilitas kesehatan rujukan seperti RSUD Sekarwangi di Cibadak memakan waktu empat jam lebih, bahkan di cuaca dan kondisi terbaik sekalipun.
Seorang ibu yang mengalami perdarahan pascapersalinan tidak punya kemewahan empat jam. Seorang bayi dengan asfiksia tidak bisa menunggu. Dalam kondisi seperti itulah, bidan desa menjadi satu-satunya harapan dengan peralatan terbatas, tanpa dokter spesialis siaga, dan tanpa ambulans yang memadai.
"Kami tahu risiko ini. Tapi tidak ada pilihan. Kami yang ada di sana, kami yang harus bertindak."
Lahirnya RSUD Jampangkulon sebagai Jawaban atas Krisis
Tingginya angka kematian ibu dan bayi di wilayah selatan akhirnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. RSUD Jampangkulon didirikan sebagai rumah sakit rujukan pertama yang benar-benar hadir di jantung wilayah Selatan memotong jarak dan waktu tempuh yang selama ini menjadi tembok maut bagi ibu-ibu bersalin.
Keberadaan RSUD Jampangkulon bukan sekadar pembangunan infrastruktur kesehatan biasa. Ia adalah respons negara terhadap ketimpangan yang nyata sebuah pengakuan bahwa masyarakat di selatan berhak mendapatkan layanan yang sama dengan mereka yang tinggal di dekat pusat kota.
Sebelum RSUD berdiri Angka kematian ibu dan bayi di wilayah selatan tercatat tinggi. Rujukan ke RS terdekat memerlukan waktu 3–4 jam melalui jalan pegunungan yang berliku. Bidan desa menjadi satu-satunya ujung tombak persalinan.
Pendirian RSUD Jampangkulon Pemerintah Kabupaten Sukabumi mendirikan RSUD Jampangkulon sebagai rumah sakit rujukan definitif di wilayah selatan untuk mendekatkan layanan spesialistik kepada masyarakat.
Pasca-operasional Angka kematian ibu dan bayi mulai menunjukkan tren penurunan. Sistem rujukan dari bidan desa ke RSUD berjalan lebih cepat dan terstruktur. Kemitraan bidan dan dokter spesialis menguat.
Kini Bidan desa tetap menjadi pilar pertama layanan persalinan. Mereka kini beroperasi dengan jaring pengaman yang lebih kuat dan RSUD Jampangkulon sebagai tempat rujukan terdekat dan terpercaya.
Bidan adalah Mata Rantai yang Sering Terlupakan
Di tengah cerita keberhasilan penurunan angka kematian, ada satu mata rantai yang sering luput dari sorotan adalah bidan. Merekalah yang pertama kali memeriksa ibu hamil di posyandu desa yang sunyi, yang mendampingi proses persalinan di tengah malam, yang memutuskan kapan seorang ibu harus segera dirujuk ke RSUD Jampangkulon sebelum terlambat.
Keputusan bidan di detik-detik kritis apakah ini masih bisa ditangani atau harus segera dirujuk adalah keputusan yang menentukan hidup mati. Dan bidan-bidan di selatan Sukabumi telah membuat keputusan itu ribuan kali, seringkali tanpa penghargaan, seringkali dengan bayaran yang jauh dari setimpal.
Peran Bidan dalam Sistem Rujukan
Bidan desa menjadi detektor dini komplikasi kehamilan dan persalinan. Dengan adanya RSUD Jampangkulon, sistem rujukan berjenjang kini berfungsi lebih efektif dari bidan desa, ke puskesmas, lalu ke RSUD dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding sebelumnya.
Kehadiran di Daerah Terpencil
Banyak bidan yang bertugas di daerah selatan harus rela tinggal jauh dari keluarga, menempuh perjalanan panjang ke desa-desa pelosok, dan bekerja tanpa fasilitas memadai. Dedikasi mereka adalah pondasi dari setiap angka statistik "kematian yang berhasil dicegah".
Edukasi dan Pendampingan Komunitas
Selain tugas klinis, bidan juga berperan sebagai pendidik komunitas mengajarkan tanda bahaya kehamilan, pentingnya ANC (Antenatal Care) rutin, hingga gizi ibu hamil kepada masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses informasi kesehatan.
Hari Bidan Nasional: Momen Merefleksikan Hutang Kita
Setiap 24 Juni, Indonesia memperingati Hari Bidan Nasional sebuah momen yang di banyak tempat berlalu begitu saja tanpa gaung berarti. Namun bagi masyarakat di selatan Sukabumi, peringatan ini semestinya bermakna jauh lebih dalam. Ini adalah hari untuk mengingat bahwa di balik angka statistik yang terus membaik, ada tangan-tangan yang telah bekerja keras jauh sebelum RSUD Jampangkulon berdiri, dan terus bekerja keras sesudahnya.
Bidan bukan sekadar tenaga kesehatan. Di wilayah-wilayah seperti Jampangkulon, mereka adalah penghubung antara kehidupan dan kematian, antara tradisi dan ilmu pengetahuan, antara masyarakat terpencil dan sistem kesehatan modern. Mereka adalah alasan mengapa banyak ibu hari ini bisa menggendong bayinya dengan selamat.
Apresiasi yang Belum Selesai
Meski angka kematian ibu dan bayi di wilayah selatan Sukabumi menunjukkan tren positif, pekerjaan belum selesai. Masih banyak bidan yang bekerja dengan kesejahteraan yang belum setara dengan beban tugasnya. Masih ada desa-desa yang jarak ke fasilitas kesehatan terdekat masih terlampau jauh. Masih ada ibu-ibu yang belum rutin memeriksakan kehamilannya.
Hari Bidan Nasional adalah pengingat bahwa apresiasi tidak cukup berhenti di ucapan selamat. Ia harus berlanjut dalam kebijakan: perbaikan kesejahteraan bidan, penguatan fasilitas desa, dan penguatan sistem rujukan yang sudah mulai terbentuk dengan kehadiran RSUD Jampangkulon.
Untuk semua bidan di selatan Sukabumi dan di seluruh pelosok Indonesia terima kasih telah memilih untuk hadir, di saat dan di tempat yang paling dibutuhkan. Selamat Hari Bidan Nasional.
Penulis: Giffari El Shanizar



