
Hepatitis menyerang diam-diam tanpa gejala yang terasa, tanpa wajah yang tampak sakit, dan tanpa batas wilayah. Di selatan Sukabumi, ancaman ini nyata. Di sinilah RSUD Jampangkulon berdiri sebagai garda terdepan deteksi, pencegahan, dan pengobatan yang bisa menyelamatkan jiwa sebelum terlambat.
Ada penyakit yang membunuh dengan cara yang paling curang: pelan, tanpa suara, dan baru terasa ketika kerusakan sudah terlanjur terjadi. Hepatitis adalah salah satunya. Virus yang menyerang hati ini bisa bersarang dalam tubuh seseorang selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tanpa satu pun gejala yang memberi peringatan. Sementara itu, hati yang terinfeksi terus meradang, jaringannya perlahan rusak, dan suatu saat berubah menjadi sirosis atau kanker hati yang mematikan.
Setiap 28 Juli, dunia memperingati Hari Hepatitis Sedunia dan di tahun 2025 lalu, tema global yang diusung adalah "Let's Break It Down: Get the Facts. Take Action" sementara Indonesia mengangkat tema nasional yang lebih membumi: "Bergerak Bersama, Putuskan Penularan Hepatitis." Di wilayah selatan Sukabumi bentangan luas yang dilayani oleh RSUD Jampangkulon tema itu bukan sekadar slogan. Ia adalah seruan yang menyentuh langsung kehidupan ribuan orang yang mungkin membawa virus hepatitis dalam tubuhnya tanpa pernah tahu.
Mengenal hepatitis: lima wajah satu ancaman
Hepatitis secara harfiah berarti peradangan hati. Ia bisa disebabkan oleh berbagai faktor, namun yang paling berbahaya dan paling banyak menyebabkan kematian adalah hepatitis yang disebabkan oleh virus khususnya hepatitis A, B, C, dan D. Masing-masing memiliki cara penularan, tingkat keparahan, dan strategi penanganan yang berbeda.
Hepatitis B ancaman terbesar. Ditularkan melalui darah, cairan tubuh, hubungan seksual, dan dari ibu ke bayi saat persalinan (penularan vertikal) Bisa menjadi kronis dan bertahan seumur hidup jika tidak ditangani dapat merusak hati secara perlahan 6,7 juta orang Indonesia terinfeksi. Vaksin tersedia dan sangat efektif mencegah infeksi
Hepatitis C bisa disembuhkan. Ditularkan terutama melalui darah jarum suntik tidak steril, transfusi darah, atau prosedur medis yang tidak aman. 2,5 juta orang Indonesia terinfeksi dan seringkali tanpa gejala hingga stadium lanjut. Terapi DAA (Direct Acting Antiviral) modern mampu menyembuhkan lebih dari 95% pasien jika diobati tepat waktu
Hepatitis A akut & bisa sembuh. Ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja risiko tinggi di daerah dengan sanitasi buruk, umumnya sembuh sendiri dan tidak menjadi kronis. Namun bisa fatal pada orang dengan penyakit hati sebelumnya Vaksin tersedia. Pencegahan utama: air bersih, sanitasi layak, dan cuci tangan yang benar
Hepatitis D & E tidak berdiri sendiri. Hepatitis D hanya menginfeksi orang yang sudah terinfeksi hepatitis B memperberat kerusakan hati secara signifikan dan Hepatitis E mirip dengan A ditularkan melalui air dan makanan terkontaminasi, sangat berbahaya bagi ibu hamil. Pencegahan hepatitis B otomatis mencegah hepatitis D. Sanitasi adalah kunci pencegahan hepatitis E
"Hepatitis tidak memilih korbannya berdasarkan status sosial atau lokasi tempat tinggal. Ia menyebar di mana ada darah yang tidak aman, air yang tidak bersih, dan ketidaktahuan yang dibiarkan terlalu lama."
Mengapa wilayah selatan Sukabumi rentan
Kabupaten Sukabumi, dan khususnya wilayah selatan yang mencakup kecamatan Jampangkulon, Surade, Ciracap, Cibitung, Kalibunder, Waluran, dan Tegalbuleud, memiliki karakteristik demografis dan geografis yang menciptakan kerentanan tersendiri terhadap penyakit seperti hepatitis. Jauh dari pusat kota, dengan akses kesehatan yang terbatas, tingkat literasi kesehatan yang belum merata, dan kondisi sanitasi yang masih perlu ditingkatkan di banyak titik sehingga semua ini membentuk lingkungan yang memudahkan hepatitis untuk bersembunyi dan menyebar tanpa terdeteksi.
Yang paling mengkhawatirkan adalah dimensi keheningan hepatitis. Di wilayah perkotaan, hepatitis mungkin terdeteksi melalui pemeriksaan rutin, tes kesehatan kerja, atau skrining saat donor darah. Di desa-desa terpencil selatan Jampang, pemeriksaan seperti ini hampir tidak ada. Seseorang bisa membawa virus hepatitis B selama dua puluh tahun tanpa pernah diperiksa dan selama itu, tanpa sadar menularkannya kepada pasangan, anak, atau anggota keluarga lain. Tetapi hal ini bisa dicegah melalui hal kecil berikut:
1. Sanitasi & air bersih terbatas
Akses air minum bersih dan jamban layak yang belum merata di desa-desa terpencil meningkatkan risiko hepatitis A dan E, yang ditularkan melalui kontaminasi feses pada air dan makanan.
2. Minimnya skrining rutin
Tanpa pemeriksaan darah rutin yang terjangkau dan mudah diakses, hepatitis B dan C kronis dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun—terutama di daerah yang jarang ada kunjungan tenaga kesehatan.
3. Penularan ibu ke bayi
Ibu hamil yang terinfeksi hepatitis B dapat menularkan virus ke bayinya saat persalinan. Tanpa skrining antenatal dan imunisasi HB0 dalam 24 jam pertama, bayi akan terinfeksi dan berisiko kronis seumur hidup.
4. Stigma & ke-tidak-tahuan
Masih banyak masyarakat yang menganggap hepatitis sebagai aib atau menyamakannya dengan penyakit kuning biasa. Stigma ini mencegah orang untuk memeriksakan diri, mengungkap status, dan mencari pengobatan.
"Di selatan Sukabumi, bukan berarti hepatitis lebih banyak—tapi kemungkinan besar lebih banyak yang tidak terdeteksi. Itulah yang menjadi perhatian kami: penyakit yang tidak terlihat adalah penyakit yang paling berbahaya."
Kemajuan Indonesia & tantangan yang tersisa
Indonesia sebenarnya telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam pengendalian hepatitis. Data menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis B turun dari 7,1% pada 2013 menjadi 2,4% pada 2023 sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Cakupan skrining hepatitis B pada ibu hamil telah mencapai hampir 90%, dan lebih dari 93% bayi dari ibu yang reaktif HBsAg telah menerima imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama kelahiran.
Kemajuan Indonesia menuju eliminasi hepatitis 2030 pada data Kemenkes RI 2023–2025. Prevalensi hepatitis B turun dari 7,1% (2013) menjadi 2,4% (2023) penurunan yang signifikan berkat cakupan imunisasi yang diperluas. Skrining hepatitis B pada ibu hamil mencapai 89,6% pada 2024, dengan lebih dari 93% bayi berisiko menerima imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama.
Terapi antivirus Tenofovir untuk ibu hamil dengan hepatitis B kini tersedia di 1.410 layanan di 206 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Pengobatan hepatitis C dengan Direct Acting Antiviral (DAA) yang mampu menyembuhkan lebih dari 95% pasien kini tersedia di 71 rumah sakit di 56 kabupaten/kota di seluruh provinsi. Namun, lebih dari 60% masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B populasi rentan yang masih harus dijangkau melalui imunisasi dan skrining dini.
RSUD Jampangkulon: benteng deteksi dan pengobatan di selatan
Dalam konteks ancaman hepatitis yang diam-diam mengintai masyarakat di selatan Sukabumi, kehadiran RSUD Jampangkulon bukan sekadar fasilitas kesehatan biasa ia adalah pusat harapan. Sebagai rumah sakit rujukan utama yang melayani ratusan ribu jiwa di wilayah yang selama ini terisolir dari akses layanan spesialistik, RSUD Jampangkulon memiliki peran yang tidak tergantikan dalam memutus rantai penularan hepatitis di wilayah ini.
Dari skrining hepatitis B pada ibu hamil yang datang memeriksakan kandungannya, hingga penanganan pasien dengan komplikasi sirosis hati yang memerlukan perawatan intensif RSUD Jampangkulon menjadi titik pertama dan sering kali satu-satunya tempat di mana warga selatan bisa mengakses layanan hepatitis yang terstandar.
Peran RSUD Jampangkulon dalam penanganan hepatitis dari skrining hingga pengobatan komprehensif. Skrining hepatitis B pada seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di poli KIA deteksi dini yang krusial untuk mencegah penularan vertikal dari ibu ke bayi pada saat persalinan.
Pemberian imunisasi HB0 (hepatitis B dosis neonatus) dalam 24 jam pertama kehidupan bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif tindakan pencegahan yang terbukti efektif memutus rantai penularan antargenerasi.
Poli penyakit dalam dengan dokter spesialis yang menangani pasien hepatitis kronis, sirosis hati, dan komplikasinya menjadi rujukan dari puskesmas-puskesmas di seluruh wilayah selatan Sukabumi.
Layanan laboratorium pemeriksaan HBsAg, anti-HCV, dan fungsi hati (SGOT, SGPT, bilirubin) yang memungkinkan diagnosis hepatitis dilakukan di lokasi tanpa harus merujuk pasien jauh ke kota Sukabumi.
Edukasi dan konseling hepatitis kepada pasien dan keluarganya termasuk penghapusan stigma, cara pencegahan penularan dalam rumah tangga, dan pentingnya pemantauan berkala bagi penderita hepatitis kronis.
Koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dan puskesmas di wilayah selatan untuk program skrining komunitas menjangkau warga yang tidak datang sendiri ke fasilitas kesehatan.
Empat langkah atasi hepatitis: bergerak dari selatan Sukabumi
Kemenkes RI melalui tema nasional Hari Hepatitis Sedunia 2025 mengajak semua elemen bangsa untuk bergerak melalui empat gerakan "atasi" dan di selatan Sukabumi, keempat langkah ini relevan dan bisa dimulai dari sekarang.
1. Atasi ketidaktahuan dengan edukasi
Masyarakat perlu tahu apa itu hepatitis, bagaimana cara penularannya, dan mengapa deteksi dini sangat penting bahkan ketika belum ada gejala.
2. Atasi keterlambatan dengan skrining
Manfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah. Skrining HBsAg dan anti-HCV bisa dilakukan di RSUD Jampangkulon dan puskesmas-puskesmas di wilayah selatan.
3. Atasi akses terbatas dengan layanan gratis
Perluas jangkauan layanan hepatitis hingga ke puskesmas dan posyandu terpencil. RSUD Jampangkulon sebagai hub rujukan pusat di selatan Sukabumi.
4. Atasi stigma dengan empati
Hepatitis bukan aib. Orang yang terinfeksi berhak mendapat dukungan, bukan dikucilkan. Perubahan sikap komunitas adalah kunci agar penderita mau memeriksakan diri dan menjalani pengobatan.
"Hepatitis bisa dicegah. Hepatitis bisa dideteksi. Hepatitis bahkan bisa disembuhkan. Yang dibutuhkan hanya satu hal pertama: keberanian untuk memeriksakan diri dan rumah sakit yang bisa menjadi tempat yang aman untuk melakukannya."
Selamat Hari Hepatitis Sedunia. Di selatan Sukabumi dan Jampangkulon, setiap tes yang dilakukan hari ini bisa menjadi langkah yang menyelamatkan nyawa baik nyawa sendiri, maupun nyawa orang yang dicintai. Bersama RSUD Jampangkulon, mari kita bergerak bersama memutus penularan hepatitis, satu pemeriksaan sekaligus, menuju Indonesia bebas hepatitis 2030.
Penulis: Giffari El Shanizar



